KONSEP BUKU NON FIKSI

 “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer)

Tema pelatihan menulis malam ini adalah KONSEP BUKU NON FIKSI seperti terlihat flyer di atas. Pemateri kali ini tak kalah kerennya seperti pemateri-pemateri sebelumnya yaitu Ibu Musiin, M.Pd yang akrab di panggil Ibu Iin. Mr. Beliau ditemani oleh moderator kocak yaitu Mr. Bam.

Ibu Iin adalah alumni kelas menulis Om Jay gelombang 8 yang juga mendapat kesempatan sekaligus tantangan menulis yang di berikan Prof. Eko. Beliau adalah salah satu yang telah berhasil menaklukan tantangan menulis Pof. Eko dan bukunya berhasil di pajang di toko buku Gramedia secara online maupun offline. Buku karya beliau berjudul Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan daya saing generasi.

Sebagai inspirasi buat saya ketika beliau menjelaskan bahwa beliau telah berhasil mengalahkan ketakutan yang berasal dari dirinya sendiri karena menurut beliau ketakutan akan menurunkan potensi seseorang dalam menulis.

Ada beberapa alasan ketakutan yang beliau rasakan mungkin juga hal ini dirasakan oleh penulis pada umumnya, seperti :

  1.       Tidak ada yang membaca.
  2.       Takut salah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan.
  3.       Merasa karya orang lain lebih bagus.

Pada saat mengikuti kelas menulis asuhan Om Jay, Bu Iin mengibaratkan Prof. Eko sebagai seorang Master Chef yang memberikan kita banyak pilihan bahan masakan yang bisa kita olah menjadi berbagai jenis hidangan. Pilihannya ada pada diri masing-masing peserta. Bahan masakan yang di sediakan Prof. Eko bisa kita peroleh di Prof. EKOJI Channel.

Kita menulis bisa berangkat dari hobi, kegemaran, kesukaan, certa, atau sesuatu yang di cintai. Pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimilki adalah bentuk buku yang ada dalam diri kita yang belum dikeluarkan ataupun belum lahir. Hal ini bisa di analogikan dalam bentuk pertanyaan “IS THERE A BOOK INSIDE YOU?” Kata-kata ini menjadi rujukan bagi penulis pemula bahwa setiap orang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya.

Berapa ratus purnama, berapa banyak kejadian yang di alami sepanjang hidup, baik itu cerita manis ataupun pahit. Semua tergantung seseorang apakah kisahnya akan di abadikan melalui tulisan ataupun hanya obrolan atau cerita kepada anak cucu saja, yang tidak meninggalkan jejak keabadian.

Menulis bukanlah hal yang mudah. Menurut penelitian diantara empat keterampialan bahasa, keterampilan menulislah yang paling sulit. Menulis tidak semudah berbicara atau bergosip. Akan tetapi dengan mengikuti berbagai pelatihan menulis akan melahirkan kecintaan akan menulis.

Ada beberapa alasan kenapa ingin menjadi penulis. Diantaranya adalah :

  1.             Mewariskan ilmu lewat buku.
  2.          Keinginan kuat punya karya sendiri yang bisa terpajang di took buku baik online maupun offline.
  3.          Sebagai bentuk pengembangan profesi sebagai guru.
  4.          Kutipan orang-orang terkenal juga menjadi motivasi tersendiri bagi penulis.

Berbicara tentang penulisan buku non fiksi. Ada 3 pola yang harus diperhatikan, yaitu :

  1.       Pola Hierarkis (Buku di susun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumuit). Contoh : Buku Pelajaran.
  2.       .   Pola Prosedural (Buku di susun berdasarkan urutan proses. Contoh : Buku panduan.
  3.       Pola Klaster (Buku disusun secara poin per point atau butir per butir. (Pola ini diterapkan pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antar bab setara).Contoh : Buku Literasi Digital Nusantara.

 Proses penulisan buku Non Fiksi terdiri dari 5  langkah, yakni

  1.      Pratulis
  2.   .  Menulis Draf
  3.   .  Merevisi Draf
  4.   .  Menyunting Naskah
  5.  5. Menerbitkan

Pratulis

 1.  Menentukan tema
 2.  Menemukan ide
3.  Merencanakan jenis tulisan
4.  Mengumpulkan bahan tulisan
5.  Bertukar pikiran
6.  Menyusun daftar
7.  Meriset
8.  Membuat Mind Mapping
9.  Menyusun kerangka

Tema bisa ditentukan satu saja dalam sebuah buku. Tema dari buku nonfiksi adalah parenting, pendidikan, motivasi dll.

Untuk melanjutkan dari tema menjadi sebuah ide yang menarik, penulis bisa mendapatkan dari berbagai hal, contohnya

  1.      Pengalaman pribadi
  2.   .  Pengalaman orang lain
  3.   .  Berita di media massa
  4.   .  Status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram
  5.   .  Imajinasi
  6.   .  Mengamati lingkungan
  7.   .  Perenungan
  8.   .  Membaca buku

Referensi berasal dari data dan fakta yang saya peroleh dari literasi di internet. Referensi terdiri dari :

1 . Pengetahuan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;
2. Keterampi lan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;
3. Pengalaman yang diperoleh sejak bal i ta hingga saat ini ;
4. Penemuan yang telah didapatkan.
5. Pemikiran yang telah direnungkan

Berikut ini adalah anatomi sebuah buku non-fiksi.

1.  Halaman Judul

2.  Halaman Persembahan (OPSIONAL)
3.  Halaman Daftar Isi
4.  Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)
5.  Halaman Prakata
6.  Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)
7.  Bagian /Bab
8.  Halaman Lampiran (OPSIONAL)
9.  Halaman Glosarium
10.Halaman Daftar Pustaka
11.Halaman Indeks
12.Halaman Tentang Penulis

Mengapa anatomi buku ini harus ada?

Jika kita mengikuti ujian sertifikasi penulis, kita akan ditanya seputar anatomi buku. Seandainya kita memakai jalur portofolio, buku yang kita tulis pasti akan dilihat anatomi bukunya.

      Menulis Draf

1.  Menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas

2.  Tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan.

Merevisi Draf

1.  Merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian

2.  Memeriksa gambaran besar dari naskah.

 Menyunting naskah (KBBI dan PUEBI)

1.  Ejaan

2.  Tata bahasa
3.  Diksi
4.  Data dan fakta
5.  Legalitas dan norma

 KBBI online sangat membantu penulis dalam menyunting naskah.

        MENERBITKAN.

Bagaimana dengan hambatan-hambatan dalam menulis? Hambatan-hambatan dalam menulis

1.  Hambatan waktu

2.  Hambatan kreativitas
3.  Hambatan teknis
4.  Hambatan tujuan
5.  Hambatan psikologis

 Bagaimana cara mengatasinya?

1.  Banyak membaca

2.  Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber.
3.  Disiplin menulis setiap hari.
4.  Pergi ke pasar dan memasak. Ini menjadi mood booster untuk menulis lagi.

Jadi kita bisa mengambil sesuatu yang merupakan pengalaman terbaik kita ataupun orang-orang di sekitar kita menjadi tulisan yang menginspirasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini