2.1.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI – MODUL 2.1
A. 1. Pengertian Pembelajaran
Berdiferensiasi
Menurut Tomlinson
(2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses
pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:
Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
- Kurikulum yang
memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara
jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan
pembelajaran, namun juga muridnya.
- Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi
yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk
dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid
mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
- Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
- Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
- Mengidentifikasi atau Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
a.
Kesiapan belajar (readiness) murid
b. Minat
murid
c. Profil
belajar murid
Untuk
mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid
diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar
murid. Selain itu dalam melakukan pembelajaran berdiferensiasi kita juga perlu
melakukan strategi dalam pembelajaran.
Strategi adalah sebuah cara dalam memberikan informasi
baru untuk semua murid dalam komunitas yang beragam termasuk cara untuk
mendapatkan konten, mengolah, membangun, atau menalar gagasan, dan
mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran penilaian sehingga semua siswa di
dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa
belajar dengan efektif
Menurut Tomlinson (2001) strategi
pembelajaran berdiferensiasi dibagi menjadi tiga, yaitu:
Diferensiasi
Konten
Konten Adalah apa yang kita
ajarkan kepada murid-murid kita. Konten berkaitan dengan materi pembelajaran
yang akan disampaikan kepada murid dengan cara kita memodifikasi dan memilih
cara yang tepat kepada murid berdasarkan kebutuhan murid. Namun dengan tetap
memperhatikan berdasarkan kesiapan belajar murid, minat murid, dan profil
belajar murid.
Diferensiasi Proses
Proses yaitu mengacu pada bagaimana murid akan memahami
atau memaknai informasi atau materi yang dipelajari. Proses yang perlu
dipersiapkan agar murid belajar sesuai dengan kebutuhannya yaitu dengan proses
kegiatan yang berjenjang, tantangan berbeda, pertanyaan pemandu, membuat agenda
individual, variasi lama waktu, kegiatan bervariasi dan pengelompokan yang
fleksibel.
Diferensiasi
Produk
Produk yaitu tagihan apa yang
diharapkan dari murid. Pemahaman murid harus sesuai dengan tujuan pembelajaran,
yang meliputi dua hal yaitu memberikan tantangan dan variasi dan memberikan
murid pilihan untuk mendemonstrasikan pelajaran yang terpenting produk, mencerminkan pemahaman
murid dan berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan diinginkan.
Pada proses pembelajaran ini
penekanannya pada kebutuhan individu, mengapa demikian? karena ditahui bahwa setiap anak itu unik, mereka punya ciri khas masing-masing.
Setiap anak terlahir dengan kodrat alam dan zamannya, guru hanya bisa menuntun
lakunya bukan kodratnya. Oleh karena itu sebagai guru kita harus memperhatikan
kebutuhan belajar setiap murid yang berbeda. Namun demikian, bukan berarti kita
mengajar dengan berbagai cara yang berbeda dalam suatu waktu. Pembelajaran
berdiferensiasi harus berpedoman pada kebutuhan belajar individu dengan
terlebih dulu melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan minat,
kesiapan, dan profil belajar murid di dalam kelas.
Ada
beberapa nilai utama dari filosofi KI Hadjar yang berkaitan dengan pembelajaran
berdiferensaisi
·
Ki Hadjar menekankan peran guru dalam pendidikan sebagai
penuntun anak didik dengan menggunakan Sistem among yang menuntun anak didk berkembang sesuai kodratnya dengan
istilah yang Ki Hadjar gunakan yaitu “menghamba pada sang anak” yang diartikan
menuntun anak didik dengan penuh kasih sayang agar anak bisa berkembang sesuai
kekuatan kodratnya. Dalam pembelajaran berdiferensiasi peran guru sangat
berperan penting dalam mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang beraneka
ragam, dengan mencipatakan lingkungan belajar yang mendukung anak anak
berkembang sesuai kekuatan kodratnya.
·
Trilogi pendidikan ini adalah: tut wuri handayani , ing madya mangun
karsa , ing ngarsa sung tulada. Ketiga nilai ini merupakan landasan penting guru dalam
menjalankan perannya agar bisa memaksimalkan strategi untuk memenuhi kebutuhan
belajar setiap muridnya.
· Nilai-nilai guru penggerak yang meliputi nilai mandiri, kolaboratif,
reflektif, inovatif dan nilai yang berpihak pada murid, merupakan modal utama
seorang guru yang harus dimiliki, sehingga
dengan nilai-nilai tersebut seorang guru penggerak diharapkan
mampu mengemban peran guru
penggerak yang salah satunya adalah menjadi pemimpin pembelajaran. Sebagai
pemimpin pembelajaran, guru harus memfokuskan pada pembelajaran yang berpihak
pada murid dengan secara mandiri, reflektif, kolaboratif, dan berinovasi dalam
mendesain dan menerapkan ragam variasi strategi yang tepat untuk memenuhi
kebutuhan belajar setiap muridnya.
“Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan kayu, jenis-jenisnya, keindahan ukiran, dan cara-cara mengukirnya. Seperti itulah seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik, Bedanya, Guru mengukir manusia yang memiliki hidup lahir dan batin.”
Komentar
Posting Komentar