“Jika seseorang ingin melihat dunia, maka membacalah. Tapi jika ingin dikenal maka menulislah”. Imam Syafi’i

 Pertemuan        : Ke 8

Tema               : Buku Mahkota Penulis, Buku Muara Lisan

 

Tema yang diangkat kali ini adalah Buku Mahkota Penulis, Buku Muara Lisan dengan narasumber beken Bapak Thamrin Dahlan, SKM, M.Si. Beliau adalah seorang dosen, penulis dan pelapor pegiat literasi. Saya sangat terkesan dengan motto beliau yaitu berbagi kebaikan dengan 3 M : Penasehat, Penakawan dan Penasaran.

Kata muara menurut kamus bahasa Indonesia adalah tempat berakhirnya aliran sungai di laut dan muara penulis adalah buku. Buku menjadi sejarah peradaban yang tak akan terbantahkan kebenarannya dan akan terus bergulir sesuai peradabannya meskipun seseorang sudah tiada.

Seorang penulis dan guru di katakana sebagai pekerjaan peradapan. Mengapa demikian? karena hasil dari pekerjaan mereka akan terus di kenang sepanjang masa.

Guru memberikan contoh atau keteladanan yang baik dalam membina karakter peserta didik. Artinya memanusiakan manusia.  Guru seorang yang di gugu dan ditiru baik perkataan maupun perbuatannya. Seorang guru tidak hanya mengajar akan tetapi mendidik, menjadi fasilitator, motivator dan evaluator.

Ada beberapa tuntutan guru di sebut arsitek peradaban. Tuntutan yang harus ada bagi diri seorang guru adalah :

1.      Mendidik dan mengajarlah dengan hati. Tentu saja melalui proses pembentukan karakter , intelektual dan tingkat kematangan dalam bersosialissasi dengan lingkungan  Mendidik dan mengajar  bukan sekedar profesi saja tapi salah satu jalan kita menuju ridha Allah.

2.      Guru harus mampu mengubah paradigmanya, berpikir lebih kreatif, terbuka dan terus meningkatkan kompetensinya menjadi guru hebat.

3.      Guru-guru yang masih berada di zona aman pastilah akan tergilas tuntutan zaman yang mengharuskan guru terus mengupgrade diri demi mutu pendidikan.

4.      Guru sebagai arsitek peradapan tidak hanya mendidik tapi juga harus terus belajar dan berkarya. Ada pepatah “Harimau mati meninggalkan belang. Gajah mati meninggalkan gading. Manusia wafat meninggalkan nama. Tulisa-tulisan itu laksana tetesan air yang mengalir. Tetesan demi tetesan bergabung jadi satu mengalir ke tempat yang rendah dan akhirnya bermuara di lautan. Itulah buku.

5.      Guru terus menggali informasi dengan berbagai macam literasi seperti ,mengikuti webinar,  menelaah berita actual, berita viral, narasumber juga membaca baik berupa artikel, menulis, berbicara dan memecahkan masalah.

            Menulis adalah pekerjaan memindahkan apa yang dibicarakan kedalam bentuk tulisan. Ketika seseorang berbicara maka secara langsung dia juga bisa menulis karena pada hakikatnya menulis adalah suatu keterampilan.

Ayo sekarang kita telaah methode menulis praktis. Ada beberapa kiat yang harus di perhatikan dalam menulis seperti upayakan terus menulis, perhatikan kesalahan dalam mengetik, ketika loss ide buat ke paragraf baru, baca berulang-ulang saat editing, cukup menulis 7 paragraf bagi pemula dan terakhir posting segera ke medsos seperti ke facebook, whats App,blog, email,website, messenger, dll.

            Mengekplor ide menulis bisa didapat dari apa yang disukai, dipahami, hobbi, pekerjaan, lingkungan, teman atau apa saja. Maka menulislah dengan hati niscaya menarik para pembaca.

            Lalu kapan sebaiknya kita menulis? Luangkan waktu untuk menulis jangan tunggu sampai ada waktu, bada subuh, ketika menunggu dan beri motivasi diri dengan kata one day one posting.

            Muara air adalah laut. Muara penulis adalah buku. Ayo kumpulkan semua tulisan di muara buku karena meskipun anda tiada namamu masih abadi di pojok cover. Salam Literasi

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini