“Jika seseorang ingin melihat dunia, maka membacalah. Tapi jika ingin dikenal maka menulislah”. Imam Syafi’i
Tema yang diangkat kali
ini adalah Buku Mahkota Penulis, Buku Muara Lisan dengan narasumber beken Bapak
Thamrin Dahlan, SKM, M.Si. Beliau adalah seorang dosen, penulis dan pelapor
pegiat literasi. Saya sangat terkesan dengan motto beliau yaitu berbagi
kebaikan dengan 3 M : Penasehat, Penakawan dan Penasaran.
Kata muara menurut kamus bahasa
Indonesia adalah tempat berakhirnya aliran sungai di laut dan muara penulis
adalah buku. Buku menjadi sejarah peradaban yang tak akan terbantahkan
kebenarannya dan akan terus bergulir sesuai peradabannya meskipun seseorang
sudah tiada.
Seorang penulis dan
guru di katakana sebagai pekerjaan peradapan. Mengapa demikian? karena hasil
dari pekerjaan mereka akan terus di kenang sepanjang masa.
Guru memberikan contoh
atau keteladanan yang baik dalam membina karakter peserta didik. Artinya
memanusiakan manusia. Guru seorang yang
di gugu dan ditiru baik perkataan maupun perbuatannya. Seorang guru tidak hanya
mengajar akan tetapi mendidik, menjadi fasilitator, motivator dan evaluator.
Ada beberapa tuntutan guru di sebut
arsitek peradaban. Tuntutan yang harus ada bagi diri seorang guru adalah :
1. Mendidik
dan mengajarlah dengan hati. Tentu saja melalui proses pembentukan karakter ,
intelektual dan tingkat kematangan dalam bersosialissasi dengan lingkungan Mendidik dan mengajar bukan sekedar profesi saja tapi salah satu jalan
kita menuju ridha Allah.
2. Guru
harus mampu mengubah paradigmanya, berpikir lebih kreatif, terbuka dan terus
meningkatkan kompetensinya menjadi guru hebat.
3. Guru-guru
yang masih berada di zona aman pastilah akan tergilas tuntutan zaman yang
mengharuskan guru terus mengupgrade diri demi mutu pendidikan.
4. Guru
sebagai arsitek peradapan tidak hanya mendidik tapi juga harus terus belajar
dan berkarya. Ada pepatah “Harimau mati meninggalkan belang. Gajah mati
meninggalkan gading. Manusia wafat meninggalkan nama. Tulisa-tulisan itu laksana
tetesan air yang mengalir. Tetesan demi tetesan bergabung jadi satu mengalir ke
tempat yang rendah dan akhirnya bermuara di lautan. Itulah buku.
5. Guru
terus menggali informasi dengan berbagai macam literasi seperti ,mengikuti
webinar, menelaah berita actual, berita
viral, narasumber juga membaca baik berupa artikel, menulis, berbicara dan
memecahkan masalah.
Menulis
adalah pekerjaan memindahkan apa yang dibicarakan kedalam bentuk tulisan.
Ketika seseorang berbicara maka secara langsung dia juga bisa menulis karena
pada hakikatnya menulis adalah suatu keterampilan.
Ayo sekarang kita telaah methode menulis
praktis. Ada beberapa kiat yang harus di perhatikan dalam menulis seperti
upayakan terus menulis, perhatikan kesalahan dalam mengetik, ketika loss ide
buat ke paragraf baru, baca berulang-ulang saat editing, cukup menulis 7
paragraf bagi pemula dan terakhir posting segera ke medsos seperti ke facebook,
whats App,blog, email,website, messenger, dll.
Mengekplor ide menulis bisa didapat
dari apa yang disukai, dipahami, hobbi, pekerjaan, lingkungan, teman atau apa
saja. Maka menulislah dengan hati niscaya menarik para pembaca.
Lalu kapan sebaiknya kita menulis?
Luangkan waktu untuk menulis jangan tunggu sampai ada waktu, bada subuh, ketika
menunggu dan beri motivasi diri dengan kata one day one posting.
Muara air adalah laut. Muara penulis
adalah buku. Ayo kumpulkan semua tulisan di muara buku karena meskipun anda
tiada namamu masih abadi di pojok cover. Salam Literasi

Komentar
Posting Komentar